Awal Merantau - Part 2 | Pengalaman Pribadi


Pengalaman-Merantau
Setiba di Malang - Terminal Arjosari, masih pagi buta. Pasti kalian pernah juga ngalamin hal yang sama, turun bus dengan terhuyung-huyung karena kelamaan duduk. Ditambah lagi dengan membawa tas ransel besar dan satu tentengan ransum yang disiapin Emak. Pukul 05:00 saya ingat, karena ngga lama sebelumnya saya dengar azan subuh.

Setelah nanya ibu-ibu yang jualan kopi, ternyata saya harus nyambung lagi ke arah Terminal Landungsari. Di Malang, jalur angkutan kota disingkat dengan inisial. Jadi kalau dari Terminal Arjosari ke Landungsari didepannya dikasih tanda AL. Sehingga gampang mengingatnya.

Logat bahasa yang masih aneh di telinga saya, terkadang ada kata-kata yang saya ngga ngerti. Ah, sudahlah, yang penting sopir angkot tahu arah tujuan saya ke Kampus Putih. 

Pertama kali mencari kos itu rasanya tanpa beban banget, karena belum kebayang susahnya jadi anak kost. Asal lihat kamarnya bersih ambil, begitu juga ketika lihat kost-kostan di Gg.IV. Bangunannya baru aja selesai, tingkat dua, deket masjid, masuk kampung, dan yang paling penting -- budgetnya masuk. Dari 14 kamar baru terisi 2 kamar, saya pilih lantai bawah dekat tangga. Itu adalah kamar kost termewah menurut saya dibandingkan dengan kost di Jogja sebelumnya. 

Satu masalah sudah teratasi, masalah berikutnya cukup pelik. Uang makan saya habis buat bayar kost. Terpaksa pergi ke wartel buat telpon rumah minta suntikan dana. 

Menjadi Mahasiswa Baru


Akhirnya ganti status juga, mencicipi bangku kuliah itu cuma beda model. Dulu kayu sekarang kursi lipat dari stainless steel dan busa tipis. 

Kampusnya memang seperti di foto. Banyak pohon rindang, masjid dan bangunan-bangunannya megah, pemandangannya mempesona, hawanya sejuk. Apalagi kalau bulan Agustus - September - Oktober, hawa di Malang paling dingin dibanding bulan lainnya. Ini juga salah satu alasan saya kenapa saya gemar memakai jaket, selain untuk mengkamuflase badan saya yang kerempeng tentunya. 

Hampir setahun berlalu, keinginan untuk mencoba lagi ikut UMPTN begitu menggebu. Secara, uang semester di PTS lebih banyak sehingga jatah uang makan bulanan juga harus menyesuaikan. Kadang kalau lagi bener-bener sulit, beli Indomie satu dibagi untuk dua kali makan.
Saya kembali membuka lembaran modul bimbingan belajar yang sudah tertata rapi dibawah kasur. Dua bulan sebelum UMPTN. 

Menjadi Mahasiswa Baru Yang Kedua Kali


Sore itu saya sengaja menyempatkan berjalan-jalan di kampus biru. Kampus yang luas sekali menurut saya, karena saking capeknya keliling berjalan kemudian saya singgah di KopMa -- Koperasi Mahasiswa untuk sekedar cari yang seger-seger beli minuman. 

Pandangan mata saya tertarik pada koleksi sticker berbagai jurusan akademis yang dijual di etalase.  

Saya membayangkan sticker itu saya tempelkan di rumah biar semua orang tahu kalau saya kuliah disini. Walau kenyataannya belum. Tapi tetap saya beli juga buat disimpan. Tulisannya "Teknik Arsitektur".

Dengan semangat '45 saya bergegas pulang untuk mulai belajar dan menuntut kepada diri saya sendiri agar berhasil dalam UMPTN yang kedua itu. Dua modul belajar soal-soal UMPTN setebal novel Harry Potter saya lalap habis selama dua bulan. Tidak lupa juga minta doa restu sama orang tua serta tambahan dana karena makan Indomie saja tidak cukup untuk asupan gizi otak saya.

Menunggu hasil pengumuman UMPTN sengaja saya pulang ke rumah Temanggung, selain karena berbarengan dengan musim liburan, tinggal di Malang saat liburan adalah ide yang ngga bagus, karena justru akan makin kurus. Pulang mudik adalah saatnya perbaikan gizi.

Dan momen yang ditunggu-tunggu tibalah juga. Sayangnya saya lupa meng-figura-kan surat kabar yang tertera nama saya. Disitu tertulis, saya masuk jurusan Teknik Arsitektur. Alhamdulillah.
Kali ini saya ngga perlu bawa oleh-oleh, karena sudah ada dirumah.

Begitulah sepenggal kisah awal mula saya merantau di Malang
Untuk belajar di Perguruan Tinggi Negeri di kota Bunga, mencari ilmu dan memupuk harapan untuk merubah masa depan menjadi lebih baik.

TAG