Awal Merantau | Pengalaman Pribadi

Pengalaman-Merantau

Ini bukan mau bahas tentang filmnya Iko Uwais, tapi tentang pengalaman pribadi saya mengenai awal perjalanan cerita selepas masa SMA untuk melanjutkan belajar di perantauan.

Ceritanya begini, tahun 1998 waktu itu adalah momen terbesar saya saat dinyatakan lulus SMA di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, sebut saja Temanggung (bukan kota samaran).

Sebagai mantan siswa SMA, secara jujur harus saya akui bahwa hal pertama yang terpikir adalah liburan, yang mana saya bisa menjauh dari buku pelajaran, bangun pagi, dan ikut bimbel sore hari.

Namun kenyataan ternyata berkehendak lain, nasib mempertemukan saya dengan UMPTN yang akan dihadapi sehingga buku modul bimbingan belajar menjadi sahabat karib setelah bangku SMA.

Dengan tekad bulat akhirnya saya berpindah menuju Kota Pelajar yang menjadi idam-idaman banyak ABG di kota asal saya waktu itu. Tujuannya adalah, mempersiapkan mental dan spiritual untuk ujian masuk perguruan tinggi negeri.

Setelah menimba ilmu selama  dua minggu di sebuah bimbingan belajar yang terkenal, saya cukup percaya diri mengumpulkan bola-bola semangat untuk menghadapi test. Tiga pilihan jalur akademis yang saya andalkan sebagai pilihan adalah; Kehutanan, Fisika, dan Sastra Inggris.

Saat-saat yang ditunggu telah terlewati dan tibalah waktunya pengumuman, sayapun pergi membeli surat kabar lokal untuk memeriksa hasil ujian. Meskipun perasaan saya optimis mampu mengerjakan soal hingga 90%. Namun itu surat kabar sudah saya bolak-balik 24 kali dan nama saya tak ada juga.

Alhamdulillah, setelah 15 menit kegalauan akhirnya saya menyadari ternyata saya ngga keterima.

Terdampar di Malang.


Pulang ke rumah dengan lesu dan tidak membawa oleh-oleh berita baik, ternyata orang tua dirumah sudah mengetahui kabar jika saya tidak keterima. Saya hanya bisa minta maaf.

Namun dorongan semangat dari orang tua agar saya tidak berhenti belajar membuat saya berpikir untuk pergi merantau jauh dari rumah dan melupakan rasa malu saya.
Sampai suatu ketika dalam sebuah iklan di surat kabar saya melihat bangunan kampus putih dengan masjid besar dan banyak pohon-pohon disekitarnya, saya membayangkan mungkinkah saya akan pergi kesana.

Begitulah kemudian saya utarakan niat kepada orang tua untuk merantau ke Malang.

Singkat cerita, saya memberanikan diri untuk keluar dari kampung halaman menjadi perantau di bumi Jawa bagian timur yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Naik bus malam legendaris yang ada gambarnya gajah dan berhenti di Terminal Arjosari esok harinya.

Disitulah kemudian saya menjadi akrab dengan bus malam di hari-hari berikutnya ketika saatnya mudik ke kampung halaman, meskipun hanya enam bulan sekali. Pernah sekali waktu ada penumpang yang membawa kambing, pesan satu kursi dan si kambing diberi selimut. Tadinya saya kira anak kecil, tak tahunya pas malam di keheningan perjalanan si kambing mengembik sehingga sontak seisi bus auto-kaget. Dan semua penumpang menghela napas lega karena akhirnya tahu asal muasal bau itu berada.




Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Awal Merantau | Pengalaman Pribadi"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel