Suka Duka Menjadi Mahasiswa Arsitektur | Pengalaman Pribadi

Sudah banyak cerita tentang kisah hidup dan pengalaman menjadi mahasiswa arsitektur. Banyak sukanya dan banyak pula tidak suka duka nya. Alhamdulillah saya juga sudah melewati masa-masa yang penuh warna itu. Saya juga termasuk golongan orang-orang yang menghabiskan waktu lama untuk lulus, cukup lama hingga hingga hampir saja mendapat julukan macan kampus. Bukan karena soal kurangnya daya intelektual (menurut saya), tapi karena terlalu mencintai kampus sehingga saya merasa berat meninggalkannya.
Suka-duka-mahasiswa-arsitektur
Seperti yang pernah saya tulis dalam artikel mengenai awal mula saya merantau di Kota Bunga, sebenarnya menjadi mahasiswa arsitektur itu adalah pengalaman kedua saya menjadi MaBa (Mahasiswa Baru). Setelah sukses kuliah satu tahun di kampus putih dan mendapat gelar MSc. alias Medal Saking Campuss (Keluar dari kampus-red). Alhasil proses orientasi mahasiswa bukan lagi sesuatu yang menakutkan pada saat itu, yah minimal sudah tahu kisi-kisinya.

Senengnya pernah kuliah di dua almamater itu membuat saya punya dua jalur pertemanan yaitu dari kampus lama dan kampus baru. Sebab meskipun saya pindah belajar ke kampus baru, tapi saya tetap satu kost dengan anak-anak kampus lama, sampai kurang lebih 2 tahun. Itulah mengapa walaupun teman dari kampus lama tidak sampai mengiringi hingga akhir wisuda, tapi kita tetap bertukar kabar sampai sekarang.

Enaknya jadi mahasiswa arsitek itu,,,,

Bisa punya alasan untuk klayapan. Tugas kuliah terkadang mengharuskan kita untuk observasi bangunan dan perilaku lingkungan. Sehingga kuliah arsitektur menjadi semacam legitimasi untuk jalan-jalan yang akademis. Pernah suatu ketika untuk mata kuliah desain interior, kita minta ijin masuk ke rumah orang kaya di perumahan elit daerah Araya, tujuannya untuk meneliti gaya desain dan studi material. Dasar udik, saya yang seumur hidup baru pertama kali masuk rumah mewah, jadi terbengong-bengong lihat garasi ada di bawah tanah. Waktu itu mikir nya kalau hujan apa ngga pada kerendam itu mobilnya?. Tapi saya pura-pura cuek saja, biar ngga dikira ndeso.

Enaknya jadi mahasiswa arsitek itu,,,

Ya bisa ketemu sama arsitek terkenal. Selain pada saat event-event kampus tahunan yang biasanya pada manggil pembicara dari praktisi arsitek yang udah terkenal, dosen kita pun sebenarnya banyak yang juga punya pengalaman lapangan. Jadi ya sama-sama arsitek terkenal, he....
Kalau saya paling seneng dengerin cerita-cerita pengalaman proyek dari arsitek dan dosen yang juga pernah mroyek. Sebab yang diceritain sukanya pas yang bagian lucu-lucu. Seperti misalnya, alm.Dosen Pak Galih pernah cerita tentang temannya pada waktu tinggal di Perancis. Jadi karena sama-sama baru datang dari Indonesia, lihat toilet disana kan berbeda. Teman beliau yang kebetulan sudah sangat kebelet BAB, akhirnya mengeksekusi tanpa tanya-tanya lagi. Ditunggu-tunggu lama ngga keluar, akhirnya setelah selesai baru tahu kalau teman tersebut BAB di bidet. Bidet itu toilet BAK khusus perempuan, tapi memang bentuknya hampir mirip closet duduk biasa. Alhasil, ya BAB-nya ngga bisa di flush..hehe....

Enaknya jadi mahasiswa arsitek itu,,,

Setengah seniman setengah insinyur, tapi kalau pengalaman saya justru lebih banyak ke senimannya. Jadi mau berkreasi dalam hal desain yang aneh-aneh apa saja ngga ada yang ngelarang. Meskipun begitu, perubahan kebiasaan belajar sekolah formal tidak serta merta bisa kita aplikasikan. Jadinya, yang justru banyak kelihatan malah di penampilan. Jadinya semacam pembenaran kalau anak arsitek itu bebas bergaya. Mau gaya punk, gaya metroseksual, gaya casual, semua boleh.

Kalau ngga enaknya jadi mahasiswa arsitek itu,,,

Susah menjaga keseimbangan asupan nutrisi. Itu adalah bahasa kerennya, secara harfiah artinya adalah kurang tidur, banyak ngopi, jatah kiriman buat beli makanan yang bergizi kesedot buat ngerjain tugas, bikin maket, beli peralatan tempur, dsb.

Ngga enaknya jadi mahasiswa arsitek itu,,,,

Rawan kena penyakit depresi. Ini juga mungkin metaforik, tapi bisa saya jelaskan begini. Arsitek itu dikelilingi dengan teori relativitas. Maksudnya adalah karena arsitek bergelut dengan art/seni maka nilai yang diberikan bisa saja relatif. Bagi yang kebetulan mempunyai skill verbal yang kurang mendukung untuk mampu mempertahankan hasil karyanya, kebanyakan akan dinilai kurang menguasai materi yang berpengaruh pada nilai akademis. Sehingga, sudah cape-cape secara fisik menyelesaikan tugas, setelah dikumpulkan dinilai buruk pula. Alamak, bisa gila kali kalau awak ngga kuat.

Apalagi ya ngga enaknya jadi mahasiswa arsitek,,,

Sebenarnya mungkin cenderung ke sisi beban tugas yang lebih berat dibandingkan dengan jurusan lain. Tapi bisa saja ngga, tergantung bagaimana masing-masing diri kita menyikapinya. Nah, bagaimana dengan pengalaman kalian menjadi mahasiswa?

TAG