Kenyamanan Menurut Sudut Pandang Arsitektur

Photo by Drew Coffman on Unsplash

Kenyamanan itu apakah sesuatu yang abstrak?

Coba lihatlah sekeliling ruangan dimana kalian sedang duduk membaca artikel ini, bagaimana kalian memberikan pengertian terhadap istilah kenyamanan. Apakah suhu ruangan yang sejuk, apakah kursi yang empuk, apakah alunan musik yang sayup-sayup, atau pencahayaan yang redup agar suasana menjadi romantis?.

Semua jawaban kalian pasti tidak akan sama.

Akan tetapi, Arsitektur sebagai ilmu yang berkaitan dengan lingkungan binaan (built environment) dan bertugas untuk merekayasa ruang, dapat disimpulkan bahwa esensi kenyamanan adalah sama berdasarkan pemikiran bahwa setiap ruangan yang tercipta adalah ditujukan untuk mewadahi aktivitas manusia didalamnya. Sehingga kenyamanan didefinisikan sebagai syarat untuk manusia melangsungkan kegiatan yang baik pada ruangan tersebut. 

Berdasarkan kenyataan yang terjadi pada era modern sekarang, rata-rata penduduk perkotaan menghabiskan lebih dari 80% waktu setiap harinya berada di dalam ruangan. Tentunya keadaan ini akan memberikan pengaruh tuntutan terhadap fisik dan psikologis manusia terhadap pentingnya rancangan dalam ruangan (indoor) yang seimbang. 

Faktor Penentu Kenyamanan

Setidaknya ada 4 faktor penentu yang mempengaruhi tingkat kenyamanan seseorang di dalam ruangan:
  • Air Quality (kebutuhan udara ruangan yang cukup) 
  • Visual Comfort (ketercukupan pencahayaan di dalam ruangan) 
  • Acoustic Comfort (tingkat kebisingan di dalam ruangan) 
  • Thermal Comfort (kenyamanan suhu ruangan) 
Kualitas Udara ditentukan oleh ketersediaan sirkulasi penghawaan yang cukup di dalam ruangan. Kita bisa mengidentifikasi dengan mudah dari adanya bau dan asap. Atau secara ilmiahnya adalah dengan mengukur kadar polutan dalam ruangan, CO2, VOC (Volatile Organic Compound), termasuk didalamnya keberadaan mikropartikel yang buruk untuk kesehatan.

Kenyamanan Visual dapat dijelaskan dengan pengertian keleluasaan seseorang untuk menjangkau penglihatan secara maksimal di dalam ruangan. Ada ungkapan yang cukup bagus untuk mewakili definisi tersebut; 
Light not brings Architecture to life, but also brings life to architecture.
Pencahayaan alami maupun buatan sama-sama memberikan efek kenyamanan terhadap penghuni ruangan. Penataan perabot, penentuan sisi bukaan jendela, arah jatuhnya cahaya tesebut semuanya menghasilkan area yang istilah arsitektur disebut daerah ternaungi (shadows) dan tidak ternaungi.

Kenyamanan Akustik adalah karakter ruangan yang ditentukan oleh tingkat kebisingan yang diterima oleh penghuninya. Aspek kenyamanan akustik sangat berhubungan dengan perilaku kegiatan manusia. Bila melampaui batas fungsi dari suatu lingkungan binaan yang ditentukan, maka kadar kenyamanan telah melebihi toleransi. Misalnya, standar tingkat kebisingan untuk bangunan sekolah, tidak akan sama dengan rumah sakit, dan sebagainya. Oleh karena itu, kenyamanan akustik tidak bisa lepas antara jenis kegiatan dan peruntukan fungsi ruangannya.

Kenyamanan Thermal ditentukan oleh suhu dan kelembaban. Tingkat kenyamanan thermal akan relatif berdasarkan letak geografis dan kebiasaan. Orang barat (bule) mungkin tidak merasakan tingkat kedinginan/kepanasan dengan orang Indonesia yang tinggal di negara tropis. Namun secara ideal, suhu yang dianggap nyaman oleh konsensus adalah 21°C sampai dengan 24°C.

Kenyamanan thermal untuk negara tropis tidak selalu diartikan dengan menggunakan pengkondisi udara (AC). Beberapa masalah kenyamanan thermal dapat dicapai dengan cara cross ventilation system, wind tunnel, dsb.

Hubungan Tingkat Kenyamanan Dengan Sumber Daya Alam

Kita pasti sudah paham, bahwa dengan semakin terdesaknya ruang kota akibat urbanisasi dan pembangunan struktur-infrastruktur kota menyebabkan berkurangnya kualitas lingkungan. Teknologi industri masuk berjejal menawarkan solusi atas masalah-masalah gaya hidup penduduk di perkotaan yang belum tentu produk tersebut ramah lingkungan.

Arsitek masa kini dihadapkan tak hanya dengan masalah kebutuhan ruang saja, tapi juga kemampuan untuk berpikir sederhana memberikan sumbangan positif terhadap ekosistem dimana hasil rancang bangun mereka berada. Kampanye sustainable environment pada jaman sekarang sudah menjadi tanggung jawab semua pihak yang terlibat di dunia perencanaan dan pelaksanaan. Baik itu Arsitek, manufacturer, dan kontraktor seharusnya mulai berfikir akan energy efficiency. 

Pengembangan BIM untuk perencana mungkin mulai dapat digunakan meskipun belum begitu populer di Indonesia. Namun dengan potensi BIM yang bisa menganalisa pengurangan masa konstruksi, biaya logistik, dan pengelolaan limbah itu akan sangat berguna bagi kontraktor yang nantinya akan menjalankan proyek tersebut. Manufaktur dan Pelaksana seharusnya sudah mulai bersinergi dengan semangat yang sama terhadap energy efficiency ini.

Maka terakhir saya ingin menutup tulisan ini dengan pengantar bahwa melalui latar belakang issue kenyamanan dan ketersediaan resource yang kita miliki, seharusnya Arsitek menjadi pemimpin dalam menggerakkan energy efficiency. Paling tidak dalam awal merencanakan proyek-proyek baru nantinya akan mulai dipertimbangkan konsep ramah lingkungan, less waste production, dan less logistic cost untuk semua pihak. Karena nyaman saja tidak cukup, harus berfikir untuk masa depan anak-anak kita. 

Selamat berkarya!.
TAG