Manajemen Konstruksi | Sebuah Tinjauan Dari Sudut Pandang Publik

Manajemen Konstruksi, istilah yang sudah lekat didengar oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia proyek baik itu perencanaan maupun pelaksanaan. Namun kebanyakan orang awam masih belum mengerti akan keberadaan Manajemen Konstruksi dan tujuan mengapa harus ada posisi tersebut dalam sebuah proyek. Tulisan ini akan mengulas secara ringan mengenai manajemen konstruksi dengan sasaran pemahaman publik supaya memiliki gambaran akan posisi tersebut.



Jadi begini, dalam sebuah hasil karya arsitektur baik itu bangunan maupun infrastruktur maka didalamnya terlibat berbagai macam ahli dari banyak disiplin ilmu. Teknik Sipil dan Arsitek hampir pasti merupakan bidang keahlian yang selalu ada. Tak jarang pula dari Teknik Industri, Teknik Elektro, dan bidang keahlian lain yang sesuai dengan proyek terkait. Semua profesional tersebut bersatu padu melaksanakan kegiatan proyek sesuai bidangnya dan yang terpenting adalah sesuai urut-urutan yang tepat pada schedule proyek. 

Dengan landasan pemikiran tersebut, secara garis besar fungsi manajemen konstruksi adalah membantu pemilik mengelola pelaksanaan proyeknya agar tercapai produktifitas kerja, efektifitas, dan efisiensi proyek. 

Fungsi Dan Tujuan Manajemen Konstruksi


Mengelola proyek berarti pula mengendalikan semua aspek sumber daya yang ada di dalamnya. Pengendalian yang dimaksud meliputi pengendalian mutu bangunan, aspek biaya, dan waktu pelaksanaan. Umumnya manajemen konstruksi akan menekankan pada pengawasan tenaga kerja dan material, karena dua faktor tersebut merupakan hal yang berkaitan erat dengan time line proyek. 

Peran manajemen konstruksi yang baik berada di seluruh tahapan proyek, mulai dari perencanaan hingga batas akhir serah terima kepada pemilik. Dengan begitu maka keterlibatan MK terhadap proyek tersebut akan menyeluruh karena sejak awal desain, proses lelang, dan pelaksanaan sudah terkondisikan sesuai persyaratan-persyaratan yang disetujui oleh pemilik. 

Seperti telah disebutkan diatas, peran terbesar MK adalah pada tahap pelaksanaan. Tentu saja, namanya juga pengelola konstruksi. Namun berdasarkan jenis jasa yang ditawarkan oleh masing-masing perusahaan manajemen konstruksi, ada berbagai type manajemen konstruksi seperti berikut:

Agency Construction Management (ACM)

Konsultan manajemen proyek diberikan tugas oleh pemilik proyek untuk membantu menjembatani kepentingan dari sejak tahap awal perencanaan sampai ke proses pelelangan dan proyek siap dikerjakan oleh kontraktor. Konsultan MK berperan memberikan masukan-masukan terhadap Arsitek, dan mengatur kepada siapa proyek tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Namun konsultan MK tidak berperan terhadap pengendalian pelaksanaan proyek. Pemilik proyek berhubungan langsung kepada kontraktor sesuai dengan persyaratan dan paket-paket yang telah ditentukan. 

Penjelasan mudahnya kira-kira begini; Saya sebagai pemilik proyek mempunyai keleluasaan mengenai kapan waktu pelaksanaan yang akan saya jalankan. Sehingga kebutuhan Manajer konstruksi saya batasi hingga proses kesiapan pelaksanaan. 

Extended Service Construction Management (ESCM)

Jasa konsultan manajemen proyek dapat diberikan oleh pemilik proyek kepada konsultan perencana ataupun kontraktor. Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa pada sistem ini terdapat kelemahan yakni apabila manajemen konstruksi diberikan kepada perencana maka peninjauan terhadap proses perancangan tersebut dilakukan oleh konsultan perencana itu sendiri. Sehingga kontrol terhadap perancangan berjalan satu arah. 

Penjelasan mudahnya kira-kira begini; Saya sebagai pemilik proyek ingin merubah desain di tengah-tengah proyek. Arsitek kemudian akan mengkondisikan perubahan tersebut dengan persetujuan ahli-ahli yang terlibat didalamnya. Proses perubahan tersebut langsung dilaksanakan tanpa melalui perantara jasa MK, karena perencana telah diberikan wewenang sebagai manajer proyek.

Owner Construction Management (OCM)

Pada sistem ini pemilik proyek mengembangkan bagian manajemen konstruksi profesional yang bertanggung jawab mengelola proyek yang dilaksanakan.

Penjelasan mudahnya kira-kira begini; Saya sebagai pemilik proyek mengupayakan divisi profesional manajemen proyek secara in-house, atau berdiri di dalam struktur organisasi perusahaan yang saya kelola sendiri untuk mengerjakan proyek saya sendiri. Di dalamnya terdapat staff-staff ahli yang berkompeten dan memiliki sertifikasi khusus sesuai dengan persyaratan standar untuk pengawasan pelaksanaan proyek.

Guaranteed Maximum Price Construction Management (GMPCM)

Type konsultan Manajemen Konstruksi ini menurut saya yang paling ideal. Karena sistem ini konsultan MK bertanggung jawab kepada pemilik proyek terhadap waktu, biaya, dan mutu. Konsultan MK berfungsi sebagai general contractor yang menunjuk pelaksana-pelaksana (subcontractor) yang memenuhi kualifikasi dan sesuai persetujuan owner. Konsultan type ini lebih independen dalam melaksanakan pengawasan dan pemilik proyek juga diberikan kewenangan untuk menempatkan wakil sebagai pengawas semua pihak-pihak yang terlibat dalam perjalanan proyek tersebut. 

Demikian tulisan singkat mengenai Manajemen Konstruksi, semoga dapat memberikan gambaran mengenai apa dan mengapa seorang manajer konstruksi memiliki posisi dan peran dalam sebuah proyek. 

Selamat berkarya!.







TAG