Bagaimana Membuat Hunian Untuk Tuna Netra?

Arsitektur sebagai ilmu yang sering kita pahami sebagai ilmu tentang keindahan, khususnya bangunan. Lalu bagaimana dengan mereka yang memiliki keterbatasan karena tidak mampu untuk melihat?. Simak penjelasan yang akan kita bahas mengenai topik ini di tulisan berikut.

Desain rumah untuk tuna netra

Difabel memiliki arti Different Ability (People with different ability) atau dalam bahasa Indonesia kita berikan istilah orang yang berkebutuhan khusus. Jangan keliru dengan Disabled, karena banyak orang salah kaprah ketika menyebut fasilitas Ramp/selasar miring pengganti tangga adalah untuk kaum Disabled. Mereka tidaklah disabled tapi hanya berbeda (different) dengan orang normal.

Cara Difabel Memahami Lingkungan

Kaum Tunanetra, khususnya dalam aktifitas sehari-hari menggunakan fungsi indera peraba dan indera lainnya untuk membaca lingkungan. Indera merupakan salah satu peran penting, sebagai reseptor yang diberi nama berdasarkan jenis rangsangan yang diterima. Seperti, Komoreseptor (penerima rangsang zat kimia), fotoreseptor (penerima rangsang cahaya), audioreseptor (penerima rangsang suara), mekanoreseptor (menerima rangsang fisik, tekanan, sentuhan, getaran). Tunanetra tidak mampu menggunakan fotoreseptor dan menggantikannya dengan reseptor yang lain.

Peran indera peraba bagi para tunanetra sangatlah penting. Indera peraba pada manusia adalah kulit. Fungsi kulit yaitu melindungi bagian tubuh sebelah dalam dari pengaruh luar dan mengatur suhu tubuh. Cara kerja kulit yaitu menerima rangsang yang berupa sentuhan panas, dingin, tekanan, nyeri, yang kemudian diteruskan urat syaraf ke otak selanjutnya otak memproses rangsangan tersebut. 

Peran Arsitek Sebagai Perencana Hunian

Sebagai seorang perencana, Arsitek sewajibnya memperhatikan pula akan tuntutan yang dibutuhkan oleh para tunanetra, tidak hanya ketika memberikan penataan di ruang publik tapi juga terhadap ruang dengan linkup lebih kecil yakni rumah hunian pribadi atau asrama. 

Dengan mengakomodasikan 3 hal penting yang dibutuhkan oleh tunanetra, maka penjabaran rancangan hunian untuk memenuhi kebutuhan khusus tersebut akan terpenuhi. Tiga hal tersebut meliputi aspek: Keamanan, Sirkulasi, dan Layout/tata ruang. 

3 Faktor Yang Perlu Dikaji Dalam Mendesain Hunian Tunanetra

Faktor keamanan dalam hunian adalah aspek antisipasi terhadap kecelakaan atau keadaan tidak menyenangkan yang kemungkinan akan dialami oleh para Tunanetra. Di dalam penerapan bangunan, menghilangkan sudut-sudut tajam dari dinding, penempatan sumber listrik yang tidak ter-exposed,  dan memilih material lantai yang tidak licin adalah beberapa contoh mengenai hal itu. 

Faktor sirkulasi bisa dijelaskan dengan pola kebiasaan para tunanetra dalam mengingat hubungan antar ruangan. Meskipun dalam konteks rumah tinggal yang notabene tidak memiliki banyak ruangan, memberikan signage atau penanda bagi tunanetra adalah hal yang mampu menjawab kebutuhan kemudahan mereka dalam beraktifitas. 

Desain rumah untuk tuna netra
Signage utama bagi tunanetra adalah Braille. Abjad braille itu seperti kartu domino, yang masing-masing sel terdiri dari 6 titik timbul. Keenam titik tersebut dapat disusun sedemikian rupa sehingga menciptakan 64 kombinasi. Huruf Braille dibaca dari kiri ke kanan dan dapat melambangkan abjad, tanda baca, angka, tanda musik, simbol matematika, dan lainnya. Pemberian signage Braille ini bisa saja ditempel pada dinding, pada tiap persimpangan ruangan, atau pada pintu masuk ruangan. 

Signage lainnya adalah dengan penggunaan material yang memberikan respon akustik. Para tunanetra akan menggunakan whitecane (tongkat tunatetra) untuk mengidentifikasi lingkungan dengan cara mengetuknya. Arsitek bisa merencanakan penutup lantai dengan parket/kayu untuk ruangan A, dan kemudian menggunakan ubin untuk ruangan B. Sehingga hal-hal yang dapat dengan mudah diidentifikasi oleh para tunanetra tersebut memastikan bahwa dia berada di ruangan yang diinginkan. 
Cara lain yang bisa digunakan selain akustik adalah dengan tekstur atau permukaan material bangunan. Ini adalah konsep yang sama seperti Braille dalam membaca kondisi lingkungan namun tidak hanya dengan tangan saja. 

Desain rumah untuk tuna netra
Faktor Layout atau tata ruang berfungsi dalam menentukan perabot-perabot dan frekuensi seberapa sering para tunanetra menggunakan fasilitas tersebut. Penataan layout yang baik akan memberikan rasa nyaman dan percaya diri para tunanetra karena mereka merasa aman berada di lingkungan tersebut. Penataan layout misalnya adalah penempatan bukaan jendela dalam sebuah ruangan yang mudah dijangkau dan mudah dioperasikan, atau pemasangan grab bar dalam kamar mandi adalah sebuah bantuan besar bagi mereka. 

Sebagai penutup, para tunanetra yang juga merupakan anggota komunitas yang sama dengan orang normal pada umumnya perlu diberikan perencanaan fasilitas yang sama pula. Bagi mereka, fungsi adalah hal terpenting dibandingkan yang lain. Para Arsitek akan mampu menjawab tantangan desain jika mereka telah memahami kebutuhan yang diinginkan oleh penggunanya. 

Selamat berkarya!.




TAG