Mengenal Bangunan Dengan Ciri Arsitektur Tradisional Bali

ciri-arsitektur-tradisional-bali
Bali tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya yang mempesona. Bangunan yang berada di Bali memiliki ciri khas tersendiri yang kuat akan pengaruh besar dari Agama hindu. Simak penjelasan berikut ini mengenai gaya dan ciri arsitektur tradisional Bali.

Konsep Bangunan dengan Ciri Arsitektur Tradisional Bali

ciri-arsitektur-tradisional-bali
balistarnews.blogspot.com
Pernahkah Anda memperhatikan setiap bangunan yang ada di Bali memiliki ciri khas yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia? Jika pernah, maka yang Anda pikirkan adalah sebuah kebenaran. Bali memiliki arsitektur sendiri yang lebih dikenal dengan ciri arsitektur tradisional Bali. Gaya yang digunakan dalam arsitektur ini merupakan sebuah identitas bagi Bali sebagai tempat yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing. Ada beberapa konsep dasar yang merupakan suatu keharusan dalam arsitektur Bali karena mempengaruhi nilai tata ruangnya.

1. Konsep Keseimbangan Alam

Perumahan umat Hindu di Bali menunjukkan bentuk keseimbangan antara alam Dewa, alam manusia dan alam Bhuta yakni lingkungan. Ketiga alam tersebut diwujudkan dalam satu perumahan disertai dengan tempat pemujaan, tempat tinggal dan pekarangan yang dilengkapi dengan penunggun karangnya. Penunggun karang tersebut lebih dikenal dengan istilah Tri Hita Karana.

2. Konsep Rwa Bhineda, Hulu Teben, Purusa Pradhana

Rwa Bhineda digambarkan dengan bentuk hulu teben atau hilir. Maksud dari hulu dalam konsep ini ialah arah dari terbitnya matahari, arah gunung serta arah jalan raya atau margi agung atau kombinasi daripadanya. Sedangkan untuk perwujudan purusan pradhana adalah bentuk dari penyediaan natar sebagai tempat di mana Akasa dan Pertiwi bertemu.

3. Konsep Tri Angga dan Tri Mandala

ciri-arsitektur-tradisional-bali
Sumber: nurvata.wordpress.com
Umat Hindu Bali memiliki pekarangan rumah yang terdiri dari tiga bagian secara garis besar atau dikenal dengan Tri Mandala. Pertama ada Utama Mandala yang digunakan untuk penempatan bangunan dengan nilai utama yakni seperti tempat pemujaan. Kedua ada Madhyama Mandala yang digunakan sebagai penempatan bangunan yang bernilai madya seperti tempat tinggal para penghuni rumah. Ketiga ada Kanista Mandala yang digunakan sebagai tempat untuk menempatkan bangunan dengan nilai kanista seperti kandang.

Bangunan-bangunan tersebut dibangun dengan tiga bagian atau lebih dikenal dengan Tri Angga di mana Utama Angga adalah atap, Madhyama Angga adalah badan dari bangunan yang dilengkapi dengan tiang dan dinding serta Kanista angga yang merupakan pondasi atau batur.

4. Konsep Keharmonisan dengan Lingkungan

Ciri arsitektur tradisional Bali tidak luput dari keharmonisan dengan lingkungan di mana proses pembangunan harus menggunakan segala potensi dari sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia setempat. Hal yang utama adalah bahan bangunan dan prinsip-prinsip bangunan sesuai dengan bangunan Hindu.

Bagian-Bagian dari Rumah Menurut Aturan Bangunan dengan Ciri Arsitektur Tradisional Bali

1. Pamerajan

Tempat mengadakan upacara yang digunakan untuk keluarga disebut dengan Pamerajan. Pada perkampungan tradisional setiap keluarga biasanya memiliki pamerajan yang letaknya di bagian sebelah timur laut yang ada di sembilan petak pola ruang.

2. Umah Meten

Umah Meten merupakan ruang yang digunakan untuk tidur kepala keluarga sehingga posisinya dipertimbangkan karena berada pada posisi cukup terhormat.

3. Bale Sakepat

Bagi Anak-anak, tempat tidurnya disebut dengan Bale Sakepat. Tidak hanya anak-anak tapi juga anggota keluarga lain yang masih di bawah umur.

4. Bale Tiang Sanga

Bale Tiang Sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu.

5. Bali Dangin

Untuk tempat bersantai sekaligus membuat benda-benda seni atau merajut pakaian bagi anak-anak disebut dengan Bali Dangin.

6. Lumbung

Lumbung adalah tempat untuk menyimpan hasil panen seperti padi dan hasil kebun lainnya.

7. Paon atau Dapur

Jelas bahwa dapur merupakan tempat di mana makanan diolah untuk hidangan keluarga.

8. Aling-Aling

Aling-Aling merupakan bagiaan entrance yang memiliki fungsi sebagai pengalih jalan masuk di mana jalan masuk tidak lurus ke dalam namun lebih menyamping. Hal ini diterapkan agar pandangan dari arah jalanan tidak langsung lurus ke dalam.

9. Angkul-Angkul

Angkul-Angkul disebut juga sebagai gapura jalan masuk.

Pura Besakih Tahun 1972

Apa Penyebab Masyarakat Bali Kurang Melestarikan Ciri Arsitektur Tradisional Bali?

Apabila dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia, Bali merupakan salah satu daerah yang masih kental akan budaya dan adatnya. Namun masyarakat cenderung melupakan ciri arsitektur tradisional Bali. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan sebagai berikut:
1. Biaya yang dihabiskan untuk pembangunan rumah berdasarkan ciri khas arsitektur Bali tidak sedikit. Rumah yang dibangun dengan arsitektur Bali harus disertai beberapa elemen khas tradisionalnya seperti material yang berupa kayu, paras, bata merah serta ornament yang diukir. Saat ini biaya ukir tersebut semakin meningkat tergantung kerumitan ukirannya.

Hal tersebut ditambah lagi karena bata merah bukan material yang tepat untuk diukir. Jika ukiran diterapkan pada kayu, maka pemilihan kayu harus lebih tepat. Namun agar bangunan rumah terlebih lebih menarik dengan ukiran rapi maka masyarakat Bali harus menggunakan paras yang memiliki harga cukup mahal.

2. Pembangunan membutuhkan waktu yang lumayan lama sehingga tidak efisien. Dalam proses pembuatan ukiran pada bangunan dinilai lama sehingga masyarakat juga cenderung memilih desain bangunan yang polos-polos.

3. Bangunan khas Bali dinilai memiliki perawatan yang susah. Material yang digunakan pada bangunan tersebut harus dirawat secara rutin agar terus terjaga keindahannya. Biaya perawatan untuk bangunan tradisional Bali dinilai lebih banyak dibandingkan bangunan non-tradisional.

ciri-arsitektur-tradisional-bali
Sekian penjelasan singkat mengenai bangunan dengan ciri arsitektur tradisional Bali. Ikuti update artikel blog Arsupala dengan cara subscribe di kolom kanan atas.
TAG