Fallingwater | Rumah Di Atas Air Terjun di Pennsylvania

Siapa yang tidak kenal dengan karya Frank Lloyd Wright ini?. Fallingwater -- Rumah di atas air terjun ini terletak di area pedesaan Pennsylvania dan merupakan satu dari seratus landmark ikonik Amerika. Tulisan kali ini akan mengupas perjalanan desain karya fenomenal tersebut.

rumah di atas air terjun
Fallingwater | Rumah di atas air terjun

Ide Desain Rumah Di Atas Air Terjun 

fallingwater - rumah di atas air terjun
sketsa isometric: Fallingwater
Konon menurut cerita bahwa sang arsitek memerlukan waktu 9 bulan setelah diberikan tugas oleh Edgar Kauffman dalam membuatkan sebuah rumah peristirahatan di Pennsylvania. Dan sehari sebelum Wright mengundangnya untuk memaparkan gagasan desainnya, barulah terbersit konsep yang terdiri dari perapian dan bidang horisontal di atas bebatuan yang menjorok keluar seperti penopang di atas air terjun. Ini adalah kata kunci baginya untuk mengembangkan desainnya kemudian.

Seperti itulah tugas arsitek, memunculkan ide tidak hanya dari design brief saja akan tetapi dengan memanfaatkan potensi lingkungan di sekelilingnya. Sebuah karya desain itu bisa efektif karena keberadaannya terlihat kontras (bertentangan) dengan sekelilingnya, bisa pula efektif karena keberadaannya submissive (menyatu) dengan sekelilingnya. Dan dalam hal tertentu terdapat hubungan yang harmonis antara lingkungan tersebut kepada pengolahan arsitektural yang diterapkan pada bangunannya.

We start with the ground, the ground already has a form. Why not begin to give at once by accepting that? Why not begin by accepting the gift of nature?... Is the ground sunny or the shaded slope of some hill, high or low, bare or wooded, triangular or square? Has the site features, trees, rocks stream, or a visible trend of some kind? Has it some fault or special virtue, or several? In any and every case the character of the site is the beginning of the building that aspires to architecture. -- Frank Lloyd Wright (The Future Of Architecture (1953), 1970, pp.321-2)


Analisa Lokasi - Tahapan Perancangan Arsitektur

Dalam ilmu Arsitektur, hal pertama yang dibutuhan adalah menentukan lokasi (site). Ada kalanya saat kalian berjalan di calon lokasi proyek menemukan aliran sungai dengan ceruk bebatuan, tanah lapang diantara pepohonan. Tempat-tempat seperti itu yang menggugah rasa untuk beristirahat sejenak. Atau tempat-tempat yang mendorong rasa untuk hanya sekedar melintas seperti jalan setapak, gundukan tanah (gumuk), dan sebagainya.

Tempat-tempat yang memiliki potensi alam diatas bagi sebagian orang akan memiliki daya tarik tertentu. Bisa jadi karena pencahayaannya, suasana teduhnya, kesan aman-nya (enclosure), atau bahkan arah sudut pandang terhadap sesuatu yang menarik (viewpoint). Mengamati dan berinteraksi dengan potensi alam seperti itu adalah hal dasar menganalisa lingkungan dalam arsitektur. Mengidentifikasi apa yang menjadi nilai tambah dan kekurangan dari lokasi adalah sebuah benih konseptual karya arsitektur yang berkembang.

Lokasi dari Fallingwater menurut analisa Wright adalah sebuah tempat yang memiliki banyak hal menarik. Wright melihat sebuah tempat yang orang lain tidak bisa melihat. Itu adalah sebuah kemampuan yang secara terus menerus diasah--melihat dengan rasa (sense). Arsitektur sebagai bagian dari karya bangunan tidak melulu dikaitkan dengan adanya sebuah bangunan terlebih dahulu. Justru dengan komposisi seperti aliran sungai, air terjun, deretan pepohonan, dataran berbatu, jalan setapak dan jembatan adalah sebuah pencerminan sempurna dari keseimbangan arsitektur menurut ilmu Japanese Garden.

Note: Frank Lloyd Wright dalam perjalanan karirnya selalu terpengaruh oleh gaya arsitektur Jepang terutama dari segi landscape dan garden architecture. 
fallingwater-rumah di atas air terjun


Lokasi Fallingwater yang ada di areal berhutan di daerah Pennsylvania bagian Barat Daya ini memiliki berbagai elemen menarik yakni:

Lahan datar dengan tepian berbatu. Batu-batu tersebut secara alami berbentuk datar dan horisontal, dengan aliran sungai yang memisahkan di antara keduanya. Yang kemudian di tepi aliran perbatasannya terdapat air terjun yang tidak terlalu tinggi. Di bagian kanan terdapat jembatan yang diikuti oleh jalan setapak. Dibawah jembatan mengalir sungai Bear Run yang merupakan konservasi Nasional sehingga merupakan cagar alam yang dipelihara dan dijaga. 

Sinar matahari yang jatuh kedalam area ini dilingkupi oleh deretan pepohonan yang ada di bagian barat. Di bagian Selatan ada beberapa pohon besar yang seolah-olah menjadi pembatas ruang pencahayaan dan pengarah menuju jembatan serta entrance. Batu besar yang ada di tengah lokasi dimanfaatkan menjadi seperti altar dan menjadi pusat dari pergerakan elemen lainnya. Dan yang menarik adalah tepian berbatu di bagian bawah Selatan, difungsikan sebagai "Theatre" untuk pengunjung mengamati keindahan air terjun dan suasana dari pengolahan bangunan Fallingwater.
fallingwater - rumah di atas air terjun


Wright menggunakan ikon batu besar yang ada di perapian itu sebagai pusat perhatian dan dasar pengembangan perancangan ruang-ruang lainnya. Di sisi sebelah perapian itu Wright memasang finishing batu artifisial yang menyerupai bebatuan di ruang luar.

Lalu di area teras luar dibuatlah kantilever beton yang sekaligus mempertegas karakter bangunan terhadap geologi sekelilingnya. Dari area ruang tamu utama, dibuat anak tangga menuju platform kecil yang ketinggiannya sedikit di atas muka air. Dua pohon yang berada di pintu masuk utama rumah dibiarkan apa adanya, sebagai penanda untuk memasuki area depan rumah.

Metoda Perancangan Arsitektur

Kalian mungkin akan bertanya, sebuah bangunan yang berdiri sendiri di tengah hutan begitu bagaimana cara menentukan orientasinya?.
Wright menggunakan jembatan eksisting yang menghubungkan jalan setapak menuju area main entrance sebagai orientasi utama bangunan. Yang kemudian setelah itu jembatan tersebut di redesain lebih lebar menggunakan beton. Sedangkan untuk komposisi ruang Wright menggunakan sistem grid 5 x 5 ft.

Sistem modular dengan mengunakan grid adalah sistem yang paling mudah dan akurat. Grid adalah alat yang mampu merubah ketidakteraturan ruang menjadi lebih manusiawi. Karena kekuatan grid itu pula maka arsitek lebih mudah mengatur layout dan hubungan antara elemen-elemen desain. Grid dalam arsitektur ibarat sebuah irama dalam sebuah alunan musik. Kalian bisa mengatur grid kecil atau lebar, begitu pula kesan irama musik menjadi seperti cepat atau lambat.
fallingwater - rumah di atas air terjun

Grid akan 'memaksa' arah desain menjadi teratur dan disiplin. Dalam contoh ini Wright tidak hanya menerapkan kedisiplinan terhadap batas-batas ruang saja, tapi juga mengaturnya agar supaya ia mampu berinteraksi dengan topografi sekitarnya. Artinya, mana area yang harus memiliki elevasi lebih rendah dan mana area yang harus lebih tinggi mampu diterapkan dalam rancangan fallingwater ini secara tepat.
rumah di atas air terjun

Wright menggunakan perapian sebagai pusat pengembangan grid terhadap ruangan lainnya. Di perapian itu dibuat juga serangkaian desain yang berkembang ke arah vertikal dan horisontal. Cerobong dari perapian tersebut seolah menjadi tiang utama rumah dimana perapian yang duduk di atas "altar" batu besar eksisting adalah sebagai pondasinya.

Jajaran dinding beton di sebelah utara yang berbatas dengan jalan setapak mengarahkan hingga ke sudut pintu masuk bangunan dan sisi jembatan di sebelah kanannya. Ini adalah contoh bahwa Wright tetap patuh pada sistem orthogonal grid namun juga mengikuti apa yang menjadi "keinginan" lingkungan sekitarnya.

Teras dengan slab kantilever dibuat menjorok keluar hingga ambang air terjun. Tangga di ruang keluarga dibuat turun berada di tengah-tengah aliran sungai. Sebuah permainan ruang yang menyiratkan pertemuan antara intelektualitas (arsitek) dan keindahan alam.

Karya fallingwater garapan Frank Lloyd Wright ini adalah sebuah bahasa arsitek dalam menangkap peluang-peluang yang telah disediakan oleh alam dan sekaligus mengaturnya secara mengagumkan. Kita bisa melihatnya dari denah yang dihasilkan; antara dinding masif yang dibuat manusia dengan fitur-fitur alamiah yang ada disekitarnya berhubungan dengan baik--tidak ada yang dikurangi tujuan dan manfaatnya.

Bahkan saling mendukung dan menguatkan. Itulah keharmonisan.

Bagaimana dengan strukturnya?.

Di gambar potongan ini kita bisa melihat sebuah irama lagi yakni struktur bangunan fallingwater. Terletak dibawah slab lantai paling bawah terdapat struktur masif yang menopang kantilever raksasa itu. Balok-balok kantilever ini berjarak 12, 6 ft atau sekitar 3.8m diantaranya. Lalu segaris dengan perapian dibagian bawah adalah 'altar' batu besar yang berfungsi sebagai struktur pendukung cerobong perapian. Selanjutnya adalah struktur semi terbuka di bagian ruang keluarga yang menuju platform diatas air sungai, dan struktur shearwall sepanjang jalan setapak hingga pintu utama. Irama sruktur ini-pun juga mengikuti sistem grid 5 x 5 foot squares. Hasilnya?, sebuah keterkaitan kompleks antara geometri dan topografi.

rumah di atas air terjun


rumah di atas air terjun



rumah di atas air terjun
Lantai 2 - Fallingwater
rumah di atas air terjun
Lantai roof - fallingwater

rumah di atas air terjun
Image: Designrulz



TAG